Lipa, begitu orang Bugis menyebutnya. Lipa adalah bagian dari kehidupan
masyarakat Bugis-Makassar-Mandar-Toraja (BMMT). Lipa bukan saja
merupakan busana tradisional masyarakat BMMT dalam berbagai acara adat.
Sarung juga dipakai sebagai pelengkap ibadah, kerja, tidur, bahkan untuk
bersenggama. Di Sulawesi sendiri, budaya menenun kain mulai berkembang
pada tahun 1400 dengan corak garis vertikal dan horisontal. Kemudian
tahun 1600 berkembanglah corak kotak-kotak seiring dengan masa kejayaan
Islam di Sulawesi Selatan. .
Lipa bercorak kotak-kotak kemudian menjadi ciri khas corak lippa, baik sebagai corak maupun latar corak. Thommas Forrest (1987;80) dalam bukunya Voyage from Calcuta, menceritakan “Sarung Bugis, meski hanya terbuat dari selembar kain … dapat menutupi kepala hingga kaki orang yang mengenakannya, bahkan pada saat mereka tidur…http://bugiesmakassar.blogspot.com/#
Lipa bercorak kotak-kotak kemudian menjadi ciri khas corak lippa, baik sebagai corak maupun latar corak. Thommas Forrest (1987;80) dalam bukunya Voyage from Calcuta, menceritakan “Sarung Bugis, meski hanya terbuat dari selembar kain … dapat menutupi kepala hingga kaki orang yang mengenakannya, bahkan pada saat mereka tidur…http://bugiesmakassar.blogspot.com/#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar