Selasa, 02 April 2013

Lipa, begitu orang Bugis menyebutnya. Lipa adalah bagian dari kehidupan masyarakat Bugis-Makassar-Mandar-Toraja (BMMT). Lipa bukan saja merupakan busana tradisional masyarakat BMMT dalam berbagai acara adat. Sarung juga dipakai sebagai pelengkap ibadah, kerja, tidur, bahkan untuk bersenggama. Di Sulawesi sendiri, budaya menenun kain mulai berkembang pada tahun 1400 dengan corak garis vertikal dan horisontal. Kemudian tahun 1600 berkembanglah corak kotak-kotak seiring dengan masa kejayaan Islam di Sulawesi Selatan. .
Lipa bercorak kotak-kotak kemudian menjadi ciri khas corak lippa, baik sebagai corak maupun latar corak. Thommas Forrest (1987;80) dalam bukunya Voyage from Calcuta, menceritakan “Sarung Bugis, meski hanya terbuat dari selembar kain … dapat menutupi kepala hingga kaki orang yang mengenakannya, bahkan pada saat mereka tidur…http://bugiesmakassar.blogspot.com/#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar